Mahasiswa DIII Teknologi Laboratorium Medis STIKES Nasional Seminarkan Bahaya Bakteri Helicobacter Pylori

2018-06-29

STIKES Nasional- Helicobacter pylori merupakan suatu bakteri yang dapat menyebabkan peradangan dan pemicu kanker pada lambung manusia. Namun belum banyak masyarakat yang mengetahui bahaya dari bakteri tersebut.

Untuk itu, Ikatan Keluarga Mahasiswa dan Progsus 9 Prodi DIII Analis Kesehatan STIKES Nasional mengadakan Seminar Nasional bertajuk Laboratory Update of Helicobacter Pylori Recent and Beyond. Acara digelar di Orient Restaurant & Convention Hall Hartono Mall Solo Baru, Minggu (13/5/2018).

Ketua Panitia Seminar, Yusuf Nur Iskandar mengatakan bahwa seorang manusia kadang merasa sehat atau normal, namun tidak tahu kemungkinan sudah terinfeksi bakteri ini. Terlebih memang bakteri ini tidak menunjukkan gejala-gejala yang spesifik.

"Kami mengadakan seminar ini karena kami ingin menyadarkan seluruh masyarakat Indonesia bahwa ada suatu bakteri bernama Helicobacter pylori yang tidak terlalu diperhatikan di Indonesia. Akan tetapi bakteri ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kanker," ujarnya pada solotrust.com, Minggu (13/5/2018).

Sebanyak 417 orang mulai dari mahasiswa hingga pekerja yang mengikuti seminar ini berasal dari area Solo Raya, hingga Semarang, DI. Yogyakarta hingga DKI Jakarta. Ada 5 narasumber yang berbagi ilmunya, yaitu Heru Kriswanto S.Si.T, dr. Sri Suwarni M.Kes, Kristuti Ernaningsih AMd. AK, F. Pramonodjati M.Kes, dan Aryo Prakoso S.Si.

Acara berupa presentasi mengenai beberapa sub bab, diskusi panel, hingga talkshow agar terjadi interaksi antara pembicara dan peserta. "Kami ada beberapa sub pembahasan tentang bakteri ini untuk seluruh masyarakat dan pembahasan mengenai pemeriksaan yang disasarkan kepada tenaga analis kesehatan atau tenaga laboratorium di Indonesia," imbuhnya.

"Dari seminar ini, kami mengharapkan seluruh masyarakat dan tenaga kesehatan harus waspada, mulai menjaga diri dan berhati-hati soal kebiasaan dan gaya hidup," kata Yusuf.

Pihaknya juga berharap Departemen Kesehatan lebih memperhatikan bakteri ini. Sebab jarang dilakukan diagnosa bakteri ini dan biaya cukup mahal hingga Rp 1 jutaan. Sehingga seluruh masyarakat bisa melakukan pemeriksaan untuk memgetahui apakah terjangkit Helicobacter Pylori ini sekaligus mengetahui tindak lanjutnya.